Perilaku Agresif
Perilaku
agresif yang terjadi akhir-akhir ini menunjukkan gejala yang memprihatinkan,
telah terjadi loncatan yang begitu tajam baik secara kualitas maupun kuantitas.
Agresivitas yang dilakukan tidak sekedar insidental atau musiman, melainkan
sudah menjadi kebiasaan, bahkan terencana. Bentuk perilakunya amatlah beragam,
mulai dari perkelahian, pengrusakan, perampokan, pembunuhan, pemerkosaan dan
tindak kriminal lainnya. Untuk menjelaskan factor dasar yang menjdi penyebab
munculnya perilaku agresif dapat ditinjau dari beberapa pendekatan, yakni:
pendekatan biologis, pendekatan eksternal dan belajar. Perilaku agresif juga
berkaitan dengan kecemasan. Adapun faktor yang memunculkan kecemasan adalah
biologis, psikoanalisis, kepribadian, perilaku, belajar, kognitif dan
humanistik (Muarifah, 2005).
Agresif
adalah suatu keinginan untuk melakukan perilaku yang bersifat negative, dan
melakukan kekerasan untuk menyakiti orang lain yang dilakukan secara fisik
maupun verbal. Agresif verbal adalah tindakan menyerang dengan menggunakan
kata- kata seperti mengejek dan membentak, agresif fisik adalah tindakan
agresif yang dilakukan dengan cara melakukan perlawanan fisik seperti
menendang, mencubit, memukul, dan lain-lain. Perilaku agresif dapat dikatakan
sebagai suatu bentuk gangguan apabila dilakukan diluar kata “Biasa” misalnya
memukul merupakan suatu perilaku yang biasa, tetapi bila setiap kali ungkapan
tidak setuju dinyatakan dengan memukul maka perilaku ini bisa dikatakan sebagai
perilaku yang agresif. Perilaku agresif juga dapat dikatakan juga sebagai suatu
bentuk gangguan apabila masalah nya sudah bersifat menetap dan sulit untuk
dihilangkan, dan perilaku yang tidak dapat diterima karena tidak sesuai dengan
norma sosial dan budaya yang ada pada lingkungan masyarakat. Perilaku agresif
juga bisa diakibatkan oleh pola asuh orang tua
Pemaksaan dan kontrol yang sangat
ketat dapat menyebabkan kegagalan dalam berinisiatif pada anak dan memiliki
keterampilan komunikasi yang sangat rendah. Anak akan menjadi seorang yang
sulit untuk bersosialisasi dengan temantemannya sehingga anak akan mempunyai
rasa sepi dan ingin diperhatikan oleh orang lain dengan cara berperilaku
agresif. Orang tua yang sering memberikan hukuman fisik pada anaknya
dikarenakan kegagalan memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh orang tua akan
membuat anak marah dan kesal kepada orang tuanya tetapi anak tidak berani
mengungkapkan kemarahannya itu dan melampiaskan kepada orang lain dalam bentuk
perialku agresif. Dengan pola asuh orang tua yang tidak terlalu mengekang, anak
akan menjadi anak yang berinisiatif, percaya diri dan mampu menjalin hubungan
interpersonal yang positif (Fortuna & Taganing, 2008).
faktor lain yang memengaruhi perilaku
agresif (Salmiati, 2015) adalah
·
- Perlakuan
buruk orangtua (Broken home)
- Dukungan
dari orangtua dan teman sebaya,
- Peran
model kekerasan yang dilihat dari orangtua, teman sebaya, dan kebiasaan nonton TV dan main game yang beradegan
kekerasan,
- Amarah
yang tak terkontrol,
- Frustasi
karena selalu gagal dalam mencapai tujuan
Cara mengatasi perilaku agresif
pada anak:
- ·
Menasehati anak dengan tegas tetapi
tanpa ada bentakan secara berlebihan
- ·
Memotivasi anak untuk berbuat baik dan
memberikan pujian saat melakukan kebaikan
- ·
Memantau anak saat menonton TV dan
berada dilingkungan permainannya
- ·
Jika gejala-gejala gangguan sudah mulai
tampak, maka segera berkonsultasi ke dokter
DAFTAR PUSTAKA
Fortuna, F., & Taganing, N. M. (2008). Hubungan
Pola Asuh Otoriter dengan Perilaku Agresif Pada Remaja. Journal of Chemical
Information and Modeling. https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004
Muarifah, A. (2005). Hubungan kecemasan dan agresivitas. Humanitas :
Indonesian Psychological Journal.
https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004
Salmiati. (2015). Perilaku Agresif Dan Penanganannya (Studi
Kasus Pada Siswa Smp Negeri 8 Makassar). Jurnal Psikologi Pendidikan &
Konseling.